beberapa tulisan terbaik untuk di baca Saya berharap di baca sampai
selesai ya ? jangan lupa luangkan waktu sejenak untuk kirim komentar
sebagai dukungan suapaya saya bisa menulis lebih baik
Pendahuluan :
Cerdik dan gokil tentu sangat menyenangkan bahkan cenderung disukai
banyak orang karena lucu. Tapi bagaimana dengan usil, selama tak
merugikan orang tak apalah, tapi jika merugikan orang lain, tentu
sangat menjengkelkan. Berikut adalah kisah seorang pemuda usil
sepanjang waktu.
Tujuan Penulisan :
Kisah ini ditulis untuk hiburan, dan sebagai ibaroh untuk diambil
pelajaran agar kita lebih berhati-hati dalam menentukan tindakan
supaya tidak merugikan diri sendiri dikemudian hari. Dan yang
terpenting supaya tidak malu-maluin tentunya.
Nama Dan Alamat Penulis :
Rachmah
Ngawi
Message:
Ada-ada saja tingkah Yupi, seorang pelajar asal Sorong Sulawesi
Selatan. Tiap hari selalu berulah. Ditengah kesibukannya sebagai
seorang murid di Sekolah Menegah Atas, ia juga aktif ngamen di
per-empatan lampu merah jalan raya tidak jauh dari kampung tani tempat
ia tinggal. Yupi Kartejo nama panjangnya. Si bungsu dari dari tiga
bersaudara.
Suatu hari, saat Yupi asik ngamen tiba-tiba ia melihat kerumunan orang
dari kejauhan. Merasa tak ingin ketinggalan informasi, dengan sigap ia
berlari menuju kerumunan tersebut. Menurut informasi yang ia dengar,
ada kecelakaan alias tabrak lari fatal bahkan sampai meninggal. Yupi
semakin penasaran dan berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa
melihat korban dari dekat. Kerumunan yang berjubel membuat ia
kesulitan untuk tahu lebih dekat.
Dasar Yupi si anak usil, akhirnya dia temukan cara. Dengan berteriak
kencang dan diulang-ulang "permisi-permisi saya keluarganya, tolong
minggir saya keluarganya" sambil membelah kerumunan dan berjalan maju.
Tentu saja orang-orang segera minggir dan memberinya jalan.
Tak disangka tak diduga, sesampainya di depan korban Yupi terkejut,
kaget bukan kepalang. Semua orang memandang aneh pada diri Yupi.
Ternyata korban meninggal dari tabrak lari tersebut adalah se-ekor
sapi gila yang tersesat dijalan raya. Yupi-pun segera berbalik arah
dan menundukkan muka. Ia tertipu oleh ulahnya sendiri.
Hari berlalu bergitu saja. Suatu ketika Yupi mengikuti pengajian rutin
di gereja tak jauh dari rumahnya bersama banyak temannya yang juga
pelajar yang datang dari berbagai pelosok tanah air. Ada yang dari
Sumatera, Irian, Jawa, dan masih banyak lagi.
Yupi dan teman-teman selalu rutin ikuti jadual di gereja. Sampai
akhirnya tiba waktu liburan sekolah. Gereja-pun turut meliburkan
kegiatannya mengingat para pelajar tersebut akan pulang ke rumah
masing-masing untuk sementara waktu. Seperti biasa, Pastur berpesan
supaya para murid menjaga diri dan menghindari berbuat dosa. Untuk
antisipasi hal tersebut, pastur menyuruh setiap murid untuk mencatat
perbuatan dosa apa yang mereka lakukan saat di rumah nanti agar mudah
mentaubatinya.
Singkat cerita, hari libur telah usai, para murid kembali beraktivitas
berlajar dan datang ke gereja tiap minggunya. Saat pertemuan minggu
pertama di gereja, murid-murid diminta melakukan pengakuan dosa.
Secara bergilir mereka ditanya dosa apa yang telah diperbuat saat
liburan dirumah. Murid pertama menjawab, saya telah mencuri uang mama.
Pastur menyuruhnya untuk insaf kemudian membayar uang tebusan dosa dan
minum air suci. Mengetahui hal tersebut Yupi malah tersenyum kecut.
Murid kedua menjawab, saya telah mengintip tetangga mandi. Pastur
memerintahkan hal serupa, membayar tebusan dan minum air suci. Kali
ini Yupi tertawa tanpa suara. Murid ketiga menjawab, saya telah
membunuh ayam tetangga. Pastur juga perintahkan hal yang sama pula,
membayar tebusan dan minum air suci. Yupi malah terpingkal. Murid
ke-empat, kelima, dan seterusnya, hingga sampailah pada giliran Yupi
yang berbaris paling akhir. Pastur bertanya, mengapa dari tadi kau
senyum-senyum sendiri, dosa apa yang telah kau perbuat wahai Yupi?.
Yupi menjawab, saya telah mengencingi air suci. Kontan semua temannya
terbelalak kaget kerena mereka semua telah minum air suci alias
kencing Yupi. Pastur-pun sedikit kaget dan tetap menyuruh Yupi untuk
membayar tebusan dosa dan meminum sisa air suci alias kencing Yupi
sendiri, semuanya sampai habis. Perintah tersebut disambut gelak tawa
dan suara riuh mencibir dari teman-teman Yupi. Mau tak mau Yupi harus
laksanakan perintah tersebut dan lagi-lagi Yupi terkena senjata makan
tuan akibat ulahnya sendiri.


































