pengetahuan. Orang bisa dianggap bodoh karena tak punya ilmu, juga
bisa dianggap istimewa karena ilmunya. Begitu juga dengan anak. Rumah
tangga tanpa hadirnya anak tak-kan sempurna. Gelak tawa, ocehan bahkan
tangisan anak menjadikan hidup sebuah hunian rumah tangga.
Jangan pernah meremehkan anak. Meski kecil dia juga punya hati,
nurani, perasaan, sakit hati bahkan kecewa layaknya orang dewasa.
Hanya saja kadarnya tentu berbeda dengan yang sudah bukan anak lagi,
termasuk cara penyaluran dari luapan perasaannya atau biasa disebut
dengan Tantrum.
Tantrum adalah bentuk luapan perasaan anak. Ada yang dengan menagis,
bergulung ditanah, memukul-mukul suatu objek tanpa bersuara, membating
atau melempar suatu objek, bahkan ada juga yang marah pada siapapun
yang ia lihat dengan menangis sejadi-jadinya. Bermacam-macam memang,
tapi ada satu tantrum yang unik, jarang ditemui pada anak, terlebih
yang masih 3 th kebawah. Yaitu diam didepan orang dewasa atau orang
tuanya seakan tak ada masalah, dan baru meluap saat mereka (ortu) tak
nampak, dengan tangisan pilu bersuara datar. Sekilas mirip bentuk
kesedihan yang sering dilakukan orang dewasa. Ini benar adanya, seakan
ia tak ingin orang lain bersedih dengan kesedihannya. Tak ingin orang
lain tahu kepiluannya atau bahkan kekecewaannya terhadap suatu hal
yang dilakukan orang dewasa atau orang tuanya diluar kesadaran orang
itu sendiri.
Satu contoh, orang tua terlalu banyak mengumbar janji semu alias janji
yang tak kunjung dipenuhi karena berbagai alasan. Pada umunya anak
akan menangis nyata dimuka orang tuanya seraya menagih janji. Namun
jika anak lebih memilih tantrum yang satu ini?! Tentu sangat Tragis
bukan!. Tersenyum bahagia, faham dengan alasan orang tuanya yang terus
menunda janji, bahkan tertawa bahagia layaknya anak kecil pada
umumnya. Setelah itu, kekecewaannya atas janji yang tertunda segera
meledak saat tiada yang tahu. Ini sikap yang sangat dewasa untuk anak
usia 3 tahun kebawah, apalagi 2 tahun. Dan hebatnya lagi, saat ditanya
perihal tangisannya, ia menjawab "takkan menagih janji" tentu dengan
bahasanya sendiri (bahasa usia 2 th) kemudian segera tersenyum,
megalihkan pembicaraan dengan menunjuk mainan kesayangannya, seakan
tak ingin si penannya turut bersedih. Dari jawaban itu jelas
menunjukkan bahwa ia tak ingin mengecewakan orang tuanya, walau dia
sendiri tak dapat sembunyikan tangisnya. Jika hal ini terjadi pada
buah hati anda, apa yang akan anda lakukan?!, menangis dan membaur
dengan tangis dewasa anak anda, marah, segera penuhi janji saat itu
juga atau bahkan tetap menagguhkan janji?!.
Jadilah yang terbijak didepan sikap bijak anak anda. Jangan kecewakan
dia. Sikap dewasanya menyembunyikan kesedihan di depan anda sudah
merupakan hal yang luar biasa, jarang dilakukan anak seusianya.
Bahagiakan anak anda, karena masa kecilnya takkan terulang lagi. Ia
akan terus tumbuh besar, remaja dan dewasa. Pada saat itulah anda akan
rindu dengan sikap lucunya saat usia 2 th, 3 th, 4 th dan tahun-tahun
sebelum dia nampak besar di mata anda.
Maka, mulai sekarang, saat ini juga, bahagiakan dia, legakan hatinya,
perlakukan dia dengan kebahagiaan yang mendidik. Karena apapun yang
anda lakukan padanya, akan membekas dibenakknya tanpa terucap.
Tanamkan keceriaan, kebahagiaan dan kasih sayang di hatinya, agar
ia-pun menceriakan, membahagiakan dan kasih sayang terhadap anda di
hari tua kelak.



































