rumah tipe S-6 (sangat-sederhana-soyo-suwe-semakin-sumpek).Di tempat
itulah aku mendirikan warung ,sebagai sawah-ladangku.Sekaligus juga
tempat tinggalku beserta istri dan kedua anakku.Bukan aku tak mau
hidup bersama orang tua,aku ingin hidup mandiri dan punya rumah
sendiri,tapi apalah daya,kuasa hanyalah ngontrak. Seperti biasa aku
buka warungku dengan harapan banyak pembeli,tapi kian hari sepi selalu
menemani. Parahnya lagi tetanggaku,kebetulan dia punya usaha yang
hampir sama denganku,yaitu ( RUMAH MAKAN SEDERHANA ) Mula-mula
keluarga mereka biasa-biasa aja.tapi tak berapa lama masalah mulai
bermunculan.hanya masalah sepele yang dibesar-besarkan,karena cemburu
sosial,dikira aku merupakan saingan yang harus disingkirkan.dan
suasana kian tidak mengenakan.
Bahkan saudara dan teman-temanku pun di ikut-ikutkan.Terkadang aku
ingin berontak,tapi gimana lagi,ibarat nunut urip ,mungkin harus tetap
menjaga kesopanan,menjaga unggah-ungguh,menghargai orang lain,intinya
harus tetap slalu ngalah-dan ngalah.Ya mungkin inilah nasib yang harus
di pikul oleh orang yang ngontrak,walaupun semua orang ngontrak tidak
seperti itu.



































