yang panas zahra berkunjung ke kediaman kakeknya di Ngawi. Baru saja
zahra mengucap salam dan melewati pintu, tiba-tiba kakek datang
menyambut dan menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan seraya berkata
dengan tersenyum; "buat beli cilok ndug". Ternyata kehadiran zahra
memang sudah lama dinanti baik oleh kakek maupun neneknya.
Kedatangan zahra ke rumah kakek nenek bukan berarti tanpa maksud dan
tujuan. Selain untuk silaturrahmi juga untuk berobat pada kakeknya
yang juga terkenal sebagai tabib muslim tradisional ala jawa tempo
dulu.
Zahra mengalami cidera di kaki kanannya karena terjatuh saat pulang
dari posyandu pagi hari itu. Dengan gayanya yang khas, kakek mulai
komat kamit baca doa sambil memijit kaki zahra. Tak lama kemudian
hanya selang lima menit kakek mengakhiri doanya dan berkata; "wes
waras". Subhanallah Allah mengabulkan doa kakek dan kaki zahra
benar-benar sembuh, tak ada rasa sakit lagi.
Kakek sering didatangi banyak pasien untuk sekedar konsultasi, berobat
maupun untuk urusan ghaib dan semacamnya. Dalam proses pengobatan
beliau selalu memberi wejangan atau nasihat islami pada pasiennya,
maklum karena beliau juga seorang santri alias tamatan pondok
pesantren. Sehingga, selain dapat servis pengobatan, pasien juga
memperoleh siraman rohani penyejuk jiwa dan raga. Dan enaknya lagi,
nenek adalah seorang penjual rujak dan es buah yang lihai alias ahli
meracik bumbu dan bahannya. Sehingga para pasien yang datang tidak
perlu khawatir kehausan atau kelaparan. Artinya para pasien bisa
sambil marung saat menunggu giliran pengobatan.Memang dari penampilan
beliau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketabibannya, namun
sudah banyak yang mengakui keampuhannya.
Demikian sedikit tentang kakek dan nenek zahra. Setelah puas bermain
dan makan dirumah kakek nenek, zahra berangkat ke alun-alun Ngawi
untuk naik kereta mini di jumat sore yang bahagia dan ceria.


































